Jumat, 21 Agustus 2009

Download Shalawat Tarhim

-
Bulan ramadhan telah tiba. Saatnya kita kembali melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik – baiknya. Mengharap ridha dan ampunan Allah Swt. Mungkin dari kita sudah tidak asing dengan sholawat Tarhim. Sebuah lantunan sholawat yang biasanya diputar di masjid – masjid menjelang Subuh tiba. Begitu sejuk semakin menambah ketenangan batin kita.






Silahkan download versi Mp3 : Shalawat Tarhim



Selengkapnya...

Senin, 17 Agustus 2009

Kemerdekaan Bagi Parmin

-
Upacara peringatan kemerdekaan dilaksanakan pagi ini. Jalanan mulai riuh oleh kendaran – kendaran mewah para pejabat daerah. Anak – anak orang berduit dengan sepeda motornya yang keluaran terbaru ikut menambah sesaknya jalan kecamatan yang berlobang. Dengan pakain rapi dan berdasi semua menuju tanah lapang untuk satu tujuan, Upacara Peringatan Kemerdekaan.

Tapi tidak bagi Si Parmin. Ia tak pergi untuk ikut upacara karena ia kini tak sekolah lagi. Ia juga tak naik mobil mewah atau motor keluaran terbaru seperti anak – anak orang kaya itu. Dengan sepeda tua peninggalan bapaknya ia membawa sabit dan keranjang bambu pergi sawah. Menyusuri pematang mengumpulkan rumput – rumput segar untuk pakan dua ekor kambing yang juga peninggalan bapaknya.

Sejak kematian bapaknya kini ia harus jadi tulang punggung keluarganya, ibu dan dua adiknya. Pendidikan pun hanya mampu ia selesaikan hingga kelas lima sekolah dasar. Setelah itu ia tak mampu melanjutkannya lagi. Biaya yang tak terjangkau oleh keluarga nya menjadi satu – satunya alasan mengapa ia tak sekolah kini. Sekolah gratis yang selama ini di-iming-iming-kan hanyalah iklan basi yang tak memihak dirinya lagi. Tetap saja kini ia harus ke sawah, mencari pakan ternak untuk kambingnya. Taka da harapan untuk kembali sekolah.

Meski hari ini hari ulang tahun kemerdekaan bangsanya, ia seakan tak peduli. Kemerdekaan itu hanya bagi orang – orang kaya. Yang bisa sekolah, bisa naik mobil mewah, dan bukan bagi seorang anak yang hanya bisa pergi ke sawah. Kemeriahan menyambut kemerdekaan pun tak pernah ia hiraukan, baginya bangsa ini belum merdeka. Pesta – pesta itu hanya menghambur – hamburkan uang saja. Baginya lebih baik untuk membeli beras buat makan esok hari dari pada untuk melihat letupan indah kembang api.

Pembacaan teks proklamasi yang Parmin dengar dari sound system yang cukup keras hanya membuatnya kian tertunduk. Ia tutup telinganya rapat – rapat. Dalam hati ia menangis. Kemerdekaan itu hanya bagi orang kaya. Bangsa ini belum merdeka selama dirinya tak bisa sekolah lagi. Bangsa ini belum merdeka selama keluarga masih sulit untuk mendapat sesuap nasi. Hatinya tetap menjerit pilu. Ia ingin mengadu. Tapi disekelilingnya hanya padi – padi ditanah kering, rumput – rumput yang kian menguning. Sesekali terdengar suara burung didahan pohon mahoni tua. Dalam hati ia menangis, seakan ia ingin berteriak ; Bangsa Ini Belum Merdeka…!!!



Selengkapnya...

Catatan Sawali Tuhusetya

MetaMARSphose

WAKTU

PENGUNJUNG

Counters

BLOG LINK

KOTAK PESAN

 
R - CHAM © 2008 All right reserved │ Powered By BLOGGER