Kamis, 2009 Juli 09

Pilpres Dan Uang Rp. 2000,-

-

Pemilu presiden telah digelar kemarin. Kisruh DPT masih tetap menjadi sorotan publik atas kurang maksimalnya kinerja KPU. Dari hasil penghitungan suara sementara oleh KPU maupun berbagai lembaga survey, pasangan SBY – Boediono berada pada posisi teratas dengan perolehan suara diatas 50% (pkl. 19.30 wib – 9/8/09). Mungkin pemilu kali memang hanya satu putaran saja. Semoga.


Pemilu Presiden Di Kampung Saya
Pemilu presiden kemarin menunjukkan bahwa antusiasme masyarakat (di kampung saya) untuk mengikuti pilpres kali ini sangat tinggi. Meski tidak ada -serangan fajar- mereka tetap datang berbondong ke TPS untuk menyalurkan pilihan mereka. Saya tidak bermaksud untuk menilai suara dan kehadiran mereka ke TPS dengan imbalan materi; seperti pelaksanaan pemilu legislatif kemarin. Namun saya mencoba untuk membandingkan jumlah kehadiran pemilih antara diberi imbalan dan tidak ada imbalan atas suara mereka.

Lebih dari 90% masyarakat (di kampung saya) memberikan dukungan kepada pasangan SBY – Boediono. Padahal tidak ada (setahu saya) seorangpun yang mengarahkan mereka untuk memilih pasangan tersebut. Sangat berbeda dengan pemilihan legislatif kemarin. Masyarakat berbondong ke TPS karena diarahkan untuk memilih salah satu caleg yang telah memberikan -bantuan- kepada mereka.

Uang Pecahan 2000-an
Ya, kemarin (9/7/2009) Bank Indonesia (BI) mengeluarkan uang pecahan senilai Rp. 2000,- sebagai alat pembayaran baru. Seperti yang diberitakan di Kompas.com , “Penerbitan uang kertas emisi baru tersebut merupakan implementasi kebijakan Bank Indonesia di bidang pengedaran uang yaitu untuk memenuhi kebutuhan uang rupiah di masyarakat dalam jumlah nominal yang cukup, jenis pecahan yang sesuai, tepat waktu dan dalam kondisi yang layak edar,” sebut Pjs Gubernur Bank Indonesia, Miranda S Goeltom, dalam siaran pers BI.


____________
Hehehehehe……



Selengkapnya...

Kamis, 2009 Juli 02

Setahun Yang Lalu (2)

-

Tumpukan kayu kering di tengah tanah lapang itu berdiri kokoh, seakan siap melawan gelapnya malam ketika api mulai melalapnya . Nampak wajah-wajah baru yang sama sekali tak aku kenal. Tapi aku yakin ada sebagian yang mengenalku. Kupacu dengan cepat sepeda motorku. Aku merasa tertipu. Sms yang memaksaku untuk pulang lebih cepat telah memberikan gambaran bahwa malam ini akan ada balas dendam atas kejadian setahun yang lalu, di malam yang sama.


Dengan kecepatan tinggi aku mencoba sesegera mungkin untuk meninggalkan tempat itu. Meski tak begitu cermat, aku berusaha untuk mengenali mereka yang berlalu lalang, berpapasan denganku menuju tempat yang baru saja aku tinggalkan. Berharap, semoga segera dapat ku ketahui keberadaan pengirim sms tadi sore. Tepat, didekat sebuah komplek pertokoan yang berjajar itu, aku menghentikan laju sepeda motornya. Tanpa pikir panjang, dan dengan api amarah yang mulai memerah, aku segera mendekatinya. Memaki, mencaci serta sumpah serapah tanda aku benar-benar marah.

Sekian lama perang kata – kata itu terjadi. Cinta, dendam dan masa lalu kami adalah alasan yang tepat sebagai penyebab kejadian malam itu. Juga, seorang anak lelaki yang kini berdiri disampingnya. Hanya diam, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya. Entah takut dengan amarah ku atau dia memang merasa bahwa ia bersalah telah menjadi bagian dari masalah – masalah kami. Atau bahkan dia tak tahu apa – apa dengan semua ini. Ah, aku tak begitu perduli. Semua salah. Hanya aku yang benar dan paling benar.

“ dasar anak h***m…!!! “

Kata itulah yang spontan keluar dari mulutku, serentak dengan pembelaannya untuk tetap berpindah haluan. Mencoba berlari dariku, dan mendekati masa lalunya yang –menurutku- sama sekali tak terhormat itu. Tentang haknya untuk bebas menjalin hubungan dengan siapapun yang ia mau. Tanpa memikirkan citra diri-nya di mata masyarakat yang sampai kini masih mengambang dalam ketidakpastian. Aku tau, kata – kataku tadi begitu membuatnya sakit hati. Mungkin aku satu-satunya manusia yang dengan nyata mengatakan hal itu di depannya. Aku sebenarnya kasihan. Tapi… keras kepala dan keegoisannya itulah yang kian menghapus rasa kasihan itu. Apa lagi dengan rangkaian kata yang semakin memerahkan telingaku.

“ Nggak usah sok peduli…!!! “

Perdebatan panjang itupun akhirnya usai. Dia pergi. Lelaki yang bersamanya tadi masih disampingku. Berjalan menyusuri tepian jalan yang nampak remang oleh lampu perumahan penduduk. Aku menawarkannya untuk mengantarkannya sampai tempat tinggalnya. Ia menolak. Selalu menolak. Dan ketika aku mengajaknya untuk membicarakan apa yang sebenarnya terjadi antara kami, yang kemudian mengikutsertakan dirinya dalam masalah ini akhirnya ia bersedia aku antarkan pulang.

Dalam sebuah ruangan sempit yang penuh dengan almari – almari kecil itu aku dan anak laki – laki itu duduk berhadapan. Ia menunduk. Entah apa yang ada dipikirannya. Aku sendiri tak tahu apa yang membuatnya menunduk didepanku. Yang ada diotakku hanya keinginan untuk segera membeberkan apa yang sebenarnya telah terjadi antara aku dan wanita yang tadi bersamanya.

Aku mulai bertanya,

“ Seberapa jauh kamu mengenalnya?”

Diam, diam dan diam. Tak ada jawaban. Aku juga mulai resah, apa yang sebenarnya terjadi pada anak ini. Perasaan bersalah berbalik memenuhi batinku. Memisahkan dua anak manusia yang -mungkin- sedang dilanda cinta.

Akhirnya aku beranikan diri untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Mulai awal aku mengenal wanita itu hingga peristiwa yang baru saja terjadi. Aku ceritakan semua. Latar belakang kehidupannya, keluarganya, dengan segala duka dan derita yang ia alami. Tentang aku, diriku, keluargaku juga status hubunganku dengan nya. Tentang segala kelebihan dan kerkurangan yang sama - sama kami miliki. Dengan fakta – fakta dan ayat – ayat serta dalil yang aku sendiri tak tahu kebenarannya. Tak ada satu episode pun terlewatkan dari cerita ku. Anak laki – laki tadi hanya menunduk. Tapi aku yakin, ia mendengarkan dan kemudian ia bisa mengambil kesimpulan tentang cerita ku tadi.

“TIDAK…!!!”

Aku tak bertanya apa maksud dari kata ‘tidak’ itu. Meski aku sudah mampu menebak kemana kata itu akan bermuara, aku tetap diam.

“ Aku tidak akan kembali dengannya,,,,,, ”

Itulah kalimat yang kemudian terlontar dari mulutnya. Entah itu emosi sesaat atau memang keputusannya setelah mendengar semua cerita-cerita ku tadi. Sejenak aku merasa lega karena aku telah menceritakan semuanya kepada anak itu, tapi disisi lain aku merasa bersalah telah memisahkan keduanya dengan cerita dan fakta yang aku jejalkan kepada pikiran anak laki – laki itu. Fakta yang mungkin bisa menjadi aib atau bahkan akan menjadi boomerang bagi dirinya.

---------------------------------------------------------------------
Kini, ia telah dimiliki orang lain. Bukan aku dan juga bukan anak laki – laki yang bersamanya malam itu. Entah, ini lelaki yang ke berapa, aku tak peduli lagi. Toh, ini sudah menjadi pilihannya. Dan mungkin suatu saat nanti akan ada yang memilikinya lagi, begitu seterusnya. Hingga ia merasa puas bisa membalaskan dendam hatinya atas kesalahan dua manusia yang telah membuatnya terlahir di dunia ini. Aku telah menjalani hidupku dengan lembaran baru. Dan ia juga telah berada pada lembaran hidupnya yang baru.

Maaf, jika ada yang merasa tersakiti oleh tulisan ini.

Semoga tak akan terulang, malam ini.
02072009



Selengkapnya...

Catatan Sawali Tuhusetya

MetaMARSphose

  • Metalogika - B eberapa kali saya menyebut istilah metalogika dalam postingan saya, beberapa kali pula ada sahabat yang mempertanyakannya. Kali ini saya akan mencoba men...

WAKTU

PENGUNJUNG

Counters

KOTAK PESAN

MAJALAH GRATIS

_
 
R - CHAM © 2008 All right reserved │ Let's Us Join BLOGGER WAROK